Kajian

Kanada Dorong ASEAN Selesaikan CoC Laut China Selatan

Duta Besar Kanada untuk ASEAN, Marie-Louise Hannan, mengatakan Ottawa mendorong negara Asia Tenggara dan China segera menyelesaikan negosiasi kode etik atau Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan.

Menurut Hannan, percepatan penyelesaian CoC berguna menghindari kawasan dari potensi konflik akibat kesalahpahaman negara-negara menyikapi wilayah tersebut.

“Faktanya para negara-negara tengah bernegosiasi soal CoC itu adalah hal yang sangat baik karena mereka sudah mulai mau mengurangi ketegangan dengan mulai berdialog di meja perundingan,” kata Hannan dalam gelaran perayaan 151 Years Canada National Day, Selasa (3/6).

“Karena itu kami mendukung penyelesaian CoC dan satu hal penting bagi seluruh pihak menjaga prinsip kebebasan bernavigasi di perairan tersebut.”

Laut China Selatan menjadi salah satu kawasan rawan konflik setelah China mengklaim hampir 90 persen perairan kaya sumber daya alam tersebut. Sebab, klaim China tersebut bertentangan dengan klaim teritorial sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Brunei, dan Malaysia.

CoC digagas sebagai pedoman dan batasan prilaku negara-negara terkait dalam menyikapi wilayah tersebut sehingga bisa menghindari konflik.

Meski Kanada bukan merupakan negara yang memiliki klaim wilayah di perairan tersebut, Hannan mengatakan negaranya tetap mendorong agar wilayah itu tetap menjadi perairan internasional.

Sebab, menurutnya, Laut China Selatan merupakan salah satu jalur perdagangan global utama dengan nilai perdagangan internasional mencapai US$5 triliun setiap tahunnya.

“Penting bagi kita semua untuk menjaga kebebasan bernavigasi di Laut China Selatan karena besarnya nilai perdagangan yang melewati kawasan tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas kesejahterahan banyak masyarakat,” ucap Hannan

Kanada merupakan salah satu mitra dialog ASEAN sejak 41 tahun lalu. Hannan menegaskan bahwa Kanada berkomitmen memperkuat kemitraan dengan Indonesia dalam kerangka bilateral maupun ASEAN untuk menghadapi tantangan global.

“41 tahun kemitraan merupakan contoh terbaik sebuah kemitraan yang terus berkembang dalam berbagai jenis cakupan dalam menghadapi bersama tantangan global,” tutur Hannan dalam pidatonya.

“ASEAN dan Kanada akan terus bekerja sama merespons berbagai ancaman global seperti terorisme, kekerasan ekstremisme, tindakan kriminal terorganisir, proliferasi senjata, hingga kejahatan siber untuk mewujudkan dunia yang lebih damai dan aman.”

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Peter MacArthur, mengungkapkan selamat kepada Indonesia yang baru saja terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan keamanan Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) periode 2019-2020.

MacArthur berharap hal tersebut bisa semakin memperkuat kerja sama Kanada dan Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.

Dia mengatakan bersama Indonesia, Kanada akan terus melindungi hak asasi manusia dan tatanan internasional yang mengutamakan kesejahterahan bagi seluruh rakyat.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia Peter MacArthur, Menteri Pemberdayaan Perempuan Yohana Yembise, Dubes Kanada untuk ASEAN, Marie-Louise Hannan, Mendagri Tjahjo Kumolo dalam gelaran perayaan 151 Years Canada National Day, Selasa (3/6).

“Tatanan internasional hari ini tengah berada dalam ancaman dan tekanan yang tinggi. Negara demokrasi seperti Kanada dan Indonesia tengah menghadapi tantangan baru, termasuk ‘berita palsu’, kebangkitan gerakan nasionalis populis, kebijakan proteksionisme, dan ketidaksetaraan pertumbuhan ekonomi,” papar MacArthur.

“Selama lebih dari 70 tahun, Kanada terus membantu pembentukan sistem internasional yang mempromosikan kesejahterahan dan perlindungan HAM, serta keadilan bagi seluruh pihak.”

Sebagai tuan rumah pertemuan puncak G7 ke-44 tahun ini, MacArthur mengatakan Kanada juga berfokus pada peningkatan dukungan terhadap hak perempuan, terutama dalam mendapatkan kesetaraan akses terhadap pendidikan.

Dalam KTT G7 8-9 Juni lalu, MacArthur mengatakan Kanada berhasil menggalang dukungan dana US$3,8 juta untuk mendukung kesetaraan pendidikan bagi perempuan di seluruh dunia.

“Ini merupakan investasi terbesar dalam sejarahnya [terkait pemberdayaan perempuan].”

Selain sejumlah diaspora Kanada, pejabat tinggi, dan tamu undangan, turut hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam perayaan tersebut.

Sumber link

Sumber foto CNN Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FRESH

AnakHI.com adalah situs mahasiswa dan alumni Hubungan Internasional. Diperuntukan bagi siapa saja yang tertarik dengan dunia Hubungan Internasional

Tagline : Dari HI ke HI

Hak cipta dilindungi : AnakHI.com

To Top